di tepi awan, di pinggir hujan, di tengah-tengah pelangi

di tepi awan, di pinggir hujan, di tengah-tengah pelangi

rumah itu selalu ada di sana
di tepi awan, di pingir hujan, di tengah-tengah pelangi
dengan nafasnya yang merdeka
jendela-jendela yang terbuka
dan pintu yang tersenyum ramah tamah
undakan-undakan anak tangga menuju ke terasnya
mengundangku untuk melompat kijang
dan menghantarkan hatiku dengan bernyanyi
sebuah lagu kanak-kanak yang kukenal sangat
namun tak terlafalkan dilidah, hanya di hati
berdengung lembut di telinga sanubari dan menetap di sana.
mari masuk, minum teh secawan,
lahaplah pisang goreng hangat dengan mentega dan gula
mereka dan aromanya menghantarkan sebuah kehangatan di pusat jiwa
tepat di tengah-tengah raga yang fana
mempertemukannya dengan sentrum yang baka,
titik itu namanya: b a h a g i a
yang begitu sederhana dan mudah
tidak berbelit tidak berkelit
hanya seadanya, seperti itu
seakan segala sesuatu memang begitu, tak perlu dipertanyakan.
rumah itu selalu ada di sana.
di tepi awan, di pinggir hujan, di tengah-tengah pelangi.
dia ada. tak perlu dipertanyakan atau dijelaskan atau diperdebatkan.
tanpa perbantahan.
aku tahu: dia ada.

SETIAP ORANG PUNYA KISAH

Setiap orang punya kisah. Kisah-kisah yang membentuk jiwa mereka menjadi sesuatu, entah sesuatu yang memberi makna bagi orang lain, atau sesuatu yang menghancurkan orang lain, entah sesuatu yang membangun dirinya sendiri atau sesuatu yang menghancurkan dirinya sendiri. Setiap orang diberi pilihan. Pilihan-pilihan yang akan mempengaruhi bukan hanya kehidupannya sendiri, namun kehidupan orang lain. Ada sekelompok orang yang diberikan pilihan-pilihan lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang lain, seiring dengan bagitu banyak talenta dan kesempatan-kesempatan yang diberikan kepadanya, sebagian dari mereka menyebutnya: berkat, sebagian yang lain menyebutnya: kutuk. Setiap orang memiliki cara-cara pandang yang berbeda. Sebagian orang selalu melihat dunia penuh dengan kesempatan, sebagian yang lain merasa dunia penuh dengan ancaman, sebagian yang lain tak mau merasa, hanya mau menimbang segala sesuatu dengan logika, untung dan rugi, sebagian yang lain hanya mau mengamati tanpa ingin terlibat lebih jauh, sebagian yang lain lagi menerima kehidupan seperti apa adanya tanpa ingin mempertanyakan.

Dibagian yang manakah aku tinggal? Di pola yang manakah aku menempatkan diriku? Pada pilihan-pilihan yang bagaimana aku berdiri dan jatuh?

Siang ini, hujan berderai di luar jendela. Saya baru saja kedatangan tamu yang memberikan oleh-oleh tas Kipling berwarna merah, pertanda saya akan dan harus membeli laptop kecil (haha), sembari kembali harus memikirkan tentang Paradoks yang harus selesai pada bulan Januari nanti, maka ingatan saya kembali ke malam sebelum siang ini, saat anak-anak minta dibuatkan dongeng yang harus berasal dari otak saya sendiri, bukan dari buku-buku cerita manapun. Harus sesuatu yang merupakan cerita olahan langsung di TKP, sebuah improvisasi yang kadang-kadang menakjubkan ketika diingat-ingat kembali, dan membuat kami bertiga cekikikan sambil bertanya-tanya, darimana datangnya kisah itu? Yang paling menyenangkan adalah melihat mata mereka bersinar-sinar takjub menikmati cerita yang penuh kejutan dan seringkali tidak nyambung satu dengan yang lain, lalu sama-sama kita cari tali yang bisa menyambungkannya dan kita ikatkan kuat-kuat sehingga menjadi sesuatu yang utuh, mungkin agak absurd tetapi di mata kami yang membuatnya, ia kelihatan indah dan sempurna.

Ah, proses penciptaan oleh mahluk fana, memang tak akan pernah menjadi sempurna seperti ciptaan Sang Sempurna. Namun setidaknya, inginnya, citra Sang Sempurna itu dapat terpantulkan, walaupun hanya seketip cahayanya saja. Mungkinkah? Allah bisa karena biasa, kata sebuah pepatah, walaupun saya yakin Allah bisa karena Ia memang bisa, bukan karena Ia terbiasa, tapi saya rasa dan pikir, itulah yang harus saya lakukan, menjadi bisa karena terbiasa melakukannya berulang-ulang.

Kalau mau dikelompokkan dalam sebuah kelompok, maka saya akan termasuk dalam kelompok yang membuat bermacam-macam kue tanpa pernah benar-benar selesai memanggang kue-kue tersebut. Dibelakang saya ada berbagai tumpukan adonan dan ide-ide bagus tentang kue-kue tersebut beserta hiasannya tentu saja, plus harga-harganya kalau dijual di toko beserta ekspresi orang-orang yang membeli kue-kue tersebut ketika memakan kue-kue itu dan merasakan betapa lezatnya, haha, yups.... sampai sebegitu detail dan jauhnya penggambarannya, tapi... mereka semua berhenti di KONSEP.

"Konseptor sungguh menakjubkan," kata ipar saya, "bisa melihat apa yang bahkan tidak ada." Itu, karena ia seorang Eksekutor, pelaksana, dan kalau berduet maka kami bisa melakukan sesuatu, saya yang berangan-angan dan dia yang menemukan cara paling praktis untuk mewujudkan gambaran mental tersebut. "Eksekutor," kata saya, "sungguh merupakan jawaban dari sebuah doa, mewujudkan apa yang tidak ada, menjadi sungguh-sungguh ada."

Tipe seperti apakah dirimu, hai mahluk-mahluk fana yang mengintip kemari? Entahlah.. yang pasti, sesuatu yang unik...

KEJUJURAN ITU MUDAH

Katakan ya ketika ya dan tidak ketika tidak. Biarlah ya-mu adalah ya dan tidak-mu adalah tidak. Katakanlah iya ketika kamu bermaksud mengatakan iya dan katakanlah tidak ketika kamu bermaksud mengatakan tidak. Kejujuran itu mudah. Ia tidak menipu dan tidak bertopeng. Ia bicara ketika harus berbicara dan diam ketika diam lebih baik daripada bersuara. Kejujuran mudah berbicara dan mudah untuk diam. Sikap Yesus adalah satu-satunya sikap jujur yang merefleksikan semua ini. Gambaran yang begitu nyata di dalam Alkitab tentang sosokNya dan sikapNya menghadapi orang banyak, menghadapi resistansi, dan akhirnya ketika harus menghadapi penghakiman yang dipaksakan.

Begitu banyak ketidak-adilan terjadi setiap hari. Fenomena Cicak dan Buaya yang sedang terjadi belakangan ini dan semakin ramai dibicarakan dimana-mana adalah sebuah potret nyata tentang kejujuran dan keadilan. Adalah sebuah kebohongan luarbiasa apabila kita menyatakan bahwa dunia ini seharusnya adil. Dunia ini tidak pernah adil, sebab kebenaran menurut ukuran dunia begitu nisbi, karena itu keadilan adalah juga nisbi. Ukuran adil tidak selalu 50-50, win-win solution tidak selalu melahirkan keadilan menyeluruh bagi seluruh lapisan. Begitu banyak faktor yang bermain di dalam penentuan sebuah "keadilan" sehingga keadilan bagi masyarakat belum tentu nanti ternyata secara faktual adalah sebuah "kebenaran" dan kebenaran belum tentu terasa adil atau masuk akal secara logis bagi publik yang telah terbentuk opininya sedemikian rupa.

Namun, kejujuran selalu mudah. Ketika hal itu menjadi tidak lagi mudah, maka kebenaran dan keadilan dapat bergeser dan dipermainkan sedemikian rupa sehingga segala sesuatu mejadi: nisbi. Segala sesuatu menjadi cair, ia menjadi serupa dengan wadah yang didiaminya dan ketika berpindah wadah maka bentuknya pun menjadi berbeda lagi. Semua itu ditentukan lebih dulu dari sebuah kejujuran, yang merupakan sesuatu yg solid, tidak cair. Ia tidak akan menjadi YA ketika seharusnya adalah tidak, dan tidak akan menjadi TIDAK ketika seharusnya YA. Namun ketika kejujuran digantikan dengan topeng-topeng yang berganti wajah dengan begitu mudahnya sesuai dengan kebutuhan saat itu, maka segala sesuatu yang mengikutinya kemudian menjadi: nisbi.

Betapa inginnya saya selalu mampu berkata ya untuk sebuah ya dan tidak untuk sebuah tidak. Betapa inginnya saya mampu untuk melangkah dalam sebuah kebenaran yang hakiki karena walaupun saya tidak mungkin hidup tanpa dosa, namun saya dapat hidup dengan hati nurani yang bersih dihadapanNya. Saya tahu, Dia melihat.

Kejujuran itu mudah. Ia tidak pernah: nisbi. Kejujuran adalah soal: integritas. Kejujuran selalu kembali kepada diri sendiri dan TUHAN-nya. Karena itu saya sungguh-sungguh percaya bahwa kejujuran selalu menang, walaupun keadilan tidak pernah ada.

SIANG INI SAYA BICARA KEPADA DIRI SENDIRI, literally, I did that. Bukan di depan kaca seperti yang biasanya saya lakukan, tetapi di sini, di depan laptop, dalam kamar yang berdebu bekas kamar tidur Ido, tempat dimana harapan saya satu-satunya untuk menangkap wireless connection kandas, tulisan di tepi kanan tetap sama: wireless connection unavailable. Maka saya memutuskan untuk berbicara keras-keras sambil menuliskan apa yang saya katakan satu persatu. Kadang-kadang diperlukan waktu sekian detik untuk menyambungkan satu kata kepada kata yang lain sampai membentuk satu rangkaian kalimat utuh. Kadang-kadang kecepatan tangan saya dikalahkan oleh kecepatan pikiran dan mulut, ketika hal ini terjadi maka saya harus berusaha menyelaraskan kecepatan ketiga unsur tersebut. Ada keasyikan tersendiri dalam "gaya" ini, ada sensasi yang berbeda, saya benar-benar merasa dilingkupi oleh diri sendiri dan tidak mendengarkan suara-suara lain di luar diri sendiri, bahkan suara dengungan AC tidak lagi terdengar, sampai saya selesai dan menyadari bahwa saya masih berada di ruangan yang sama, hanya saja tadi saya seakan berada pada sebuah dimensi yang berbeda.

4711

di rumah ini, pada bulan sebelas, selalu ada 3 ulangtahun yang berurutan, mama (4), eci (7) dan nona (11), thus, 4711.

saya juga ingat bahwa oma, suka 2 macam wewangian, yaitu si 4711 ini dan no5 chanel. si 4711 ini yang selalu ada di dalam tas-nya oma, sebab kalau oma merasa pusing maka ia segera menghirup aroma 4711 yang membuatnya merasa segar kembali. sangat bertolak belakang dengan saya yang tidak bisa mencium wewangian kalau sedang pusing, sebab malah bertambah pusing.

membebaskan diri dari penjara

baru saya sadari bahwa saya ini orang tahanan. dan saya menahan diri saya sendiri, mengurungnya dalam batasan-batasan yang saya buat sendiri, kadang berdasarkan kacamata milik orang lain. seperti putri sion dalam gambaran yang diberikan di Buku Di Atas Segala Buku, terkurung dalam penjara dengan kunci yang tergantung sebagai kalung di lehernya. tak ada seorangpun juga yang mampu mengeluarkannya dari penjara itu selain dirinya sendiri, karena ia sudah memiliki akses tersebut sedangkan orang lain tidak.

berdiri dan melangkah maju bukan sebuah pekerjaan mudah ketika sudah terbiasa duduk dan terpuruk. bayangan mental tentang citra diri sudah terbentuk di kepala dan seakan-akan hal itu adalah kodrati.

tidak benar. tidak benar. tidak benar.

walaupun rasanya goyah, namun kekuatan untuk berdiri itu ada. otot-otot itu utuh, masih kuat dan tetap setia menunggu saya menggunakannya. yang membatasi saya hanya dinding-dinding waktu yang merupakan sebuah paradoks, sebab ia membatasi sekaligus sebuah tanpa batasan. ia harus dijalani, tanpa perlu menengok dari balik pundak dengan takut-takut kapan sakratul maut menjemput, sebab ia bebas menentukan waktunya, sedangkan saya bebas menentukan sikap saya sebelum waktunya datang.

sudah waktunya saya membebaskan diri dari penjara. saya bukan melarikan diri, tak perlu. saya hanya perlu berdiri, melangkahkan kaki menuju ke pintu yang masih tertutup itu dan kadang-kadang rasanya begitu mengintimidasi karena kebekuannya yang diam dan satu-satunya liang yang memisahkan saya dari dunia di luar dinding-dinding tinggi, lalu meraih anak kunci dari kalung ini, merenggut lepas borgol-borgol yang melingkarinya, memasukkannya ke dalam lubang kunci, memutarnya, merasakan sensasi antara jenak sebelum, akan dan kemudian... klik.. seputaran saja, pintu itu telah terbuka, satu hal lagi yang harus saya lakukan adalah: membukanya, lalu melangkahi ambangnya... membebaskan diri dari penjara.

sesederhana itu? ya. sesederhana itu.

apa, kenapa, mengapa, bla-bla-bla

ketika duduk di depan komputer dan memikirkan hendak menulis apa, aku membayangkan bau siang hari. bau siang hari? ya, bau siang hari. campuran antara keringat dan setengah lelah, serta terik matahari.

demikian pikiran-pikiran itu berloncatan di dalam tempurung kepalaku, tanpa aturan khusus, mereka muncul tiba-tiba, keluar dari barisan. ah mereka memang tidak pernah ada dalam barisan. mereka adalah pelarian. bukan pasukan yang berjejer rapi penuh disiplin. mereka lebih mirip pelarian yang menghambur dari penjara ketika pintu dibuka dan lupa ditutup kembali. sejak itu mereka tak pernah lagi mau masuk ke dalam sel-nya masing-masing.

lagipula, siapa sih yang mau dikurung?

hal lain lagi yang membuat saya berpikir hari ini seperti juga hari-hari lainnya adalah, mengapa saya menulis di blog. kalau kenapa saya menulis, adalah hal yang mudah untuk dijawab. saya menulis karena saya suka menulis, karena pekerjaan saya adalah menulis, karena saya memang tukang menulis, karena angka saya kalau mengarang selalu saja A atau tidak pernah kurang dari 80 adalah sebuah fakta, karena dari dulu guru-guru saya selalu berkata saya berbakat menulis, dan sebelum mereka bicara pun saya sudah tahu bahwa saya suka sekali dengan kata-kata dan kalimat-kalimat, kalau anak-anak yang lain kebingungan jika disuruh membuat puisi atau mengarang, maka saya justru tidak bisa berhenti menulis puisi dan mengarang, terlalu mudah. mudah sekali menjawab semua itu. namun menemukan mengapa saya ngeblog adalah hal yang masih menjadi tanda tanya, sampai akhirnya setelah sekian lama tidur tanpa mimpi atau mimpi tentang hal yang itu itu lagi, maka semalam saya menemukan jawabannya. bagi saya menulis di blog ini adalah seperti berbicara dan bercerita dengan udara. bayangan saya adalah berada di sebuah dataran rumput dengan hanya sebatang pohon dan luasnya langit biru cerah. saya ditengah-tengah semua itu, bicara tentang apa yang ada di kepala saya, melepaskan kata-kata demi kata-kata, tanpa perduli apakah saling bersambungan atau tidak. saya tahu bahwa ada kemungkinan orang lain mendengar, namun hal itu tidak penting sama sekali. dan tidak masuk dalam hitungan antara pikiran saya dan saya.

sekarang saya memahami dengan lebih baik arti dari: write like no one is reading, yang saya tuliskan sendiri di blog ini. kalimat itu merangkum seluruh sikap dasar saya dalam menulis di blog ini, blog yg it's personal ini, blog gratcia nulis ini. saya menyadari bahwa ketika pertama kali saya menulis di blog ini, saya hanya ingin menulis, bukan ingin menjadi penulis blog yang terkenal, bukan pula untuk menjadi bahan referensi, bukan pula ingin dibaca oleh banyak orang, bukan juga untuk menyenangkan hati orang-orang, bukan juga untuk curhat, bukan juga untuk melampiaskan unek-unek, bukan juga untuk membantu orang lain belajar menyelesaikan masalah mereka, ughh... jauh betul dari semua itu, bukan, bukan, bukan, saya menulis di sini untuk merasakan sensasi itu. sensasi "thinking out loud" dengan resiko bahwa ada yang mendengar, namun tidak perlu terlalu saya perdulikan, karena pendapat mereka bukan dan tidak akan pernah menjadi referensi saya.

egoisnya saya, hoho, sombongnya saya. memang. kesombongan yang membebaskan saya untuk berpikir tanpa harus terlalu takut dengan pendapat orang lain. dan saya memerlukan kesombongan ini untuk menghidupkan kata-kata dalam kepala saya. kata-kata yang sering sekali mati sebelum sempat menampakkan diri ketika saya terlalu perduli dengan kata-kata lain yang berdesakan diluar diri, dan mengakibatkan kata-kata yang ada di dalam diri terbengkalai, tidak terurus, mati.

aih... betapa dramatis? memang. saya suka mendramatisir kata dan kalimat. saya memerlukannya untuk keluar dari kebosanan keseharian atau situasi yang biasa-biasa saja, terlalu normal...

catatan ini tanpa ujung pangkal, dimulai dari sesuatu menuju kepada sesuatu dan berakhir dalam sesuatu, walaupun tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti. kadang-kadang seperti itulah hambur kautnya seprai yang ada di kepala ini, menutupi entah apa, tempat tidur yang bentuknya pun sudah tak lagi segi empat sempurna, atau bukan bulat bundar mulus seperti seharusnya.

kaca-kaca retak, saya ingat kata tante Lot, seperti kaca-kaca yang retak, masih bisa melihat bayangan di sana namun kadang jadinya aneh... dan kalau sekali lagi ada yang bertanya apa ada apa dengan saya, maka rasanya saya ingin menamparnya kuat-kuat dan memasukkannya ke dalam lubang tergelap dalam semesta sambil berteriak: memangnya apa yang kamu pikir sedang terjadi? dan sebelum dia bisa menjawab dengan tepat, dia akan tetap terkurung di sana, selama-lamanya... haha! senangnya.

Titik Itu Namanya? Harapan.

Seseorang mengirimkan text message kepada saya, "G, aku baca blog kamu. Titik itu, yang aufklarung, apa namanya?"

Saya memikirkannya, ya, apa namanya, ada diujung lidah, namun tidak terartikulasikan, sampai membaca text message tersebut, dan saya menemukannya, tidak jauh-jauh, selalu ada bersama datangnya pagi dan kesadaran bahwa masih diberi sehari lagi untuk bernafas. Titik itu namanya: Harapan.