Bosan dengan: Apakah Kamu Bahagia?

Apakah kamu bahagia? Apakah kamu selalu berbahagia?

Tidak ada satu mahluk pun yang bisa selalu bahagia. Mana mungkin selalu bahagia. Saya tahu bahwa saya berbohong kalau saya berkata bahwa saya selalu bahagia, sebab hal itu jelas-jelas nonsense. Mana mungkin saya berbahagia sewaktu ayah saya sakit keras. Mana mungkin saya tetap merasa berbahagia di waktu ayah saya meninggal. Mana mungkin saya harus bahagia ketika saya merasa dikecewakan. Mana mungkin saya bahagia ketika ada orang yang saya kasihi jatuh sakit, atau kehilangan pekerjaan, atau berada dalam kesulitan. Secara wajar, justru tidak mungkin saya merasa berbahagia di saat-saat tersebut. Justru aneh kalau di saat-saat itu, saya tetap merasa berbahagia karena mereka mengalami semua hal buruk tersebut atau ketika saya mengalami hal buruk, seakan-akan saya diprogram untuk hanya bisa merasa senang, happy, bahagia dan tidak terganggu dengan apapun yang terjadi.

Absurd.

Karena itu, saya selalu merasa heran ketika diharapkan harus secara konsisten berbahagia. Ya nggak bisa lah yau.. Tidak wajar dan tidak seperti itu saya diciptakan, dan tidak mungkin juga walaupun saya inginnya harus seperti itu. Menurut saya, justru kesadaran bahwa saya tidak mungkin selalu merasa bahagia, nah namanya saja sudah perasaan, pasti dapat dan berhak untuk berubah-ubah, membuat saya memandang hidup dengan lebih baik dan lebih mudah.

Saya sadar betul bahwa akan selalu ada kesulitan dan ada kemungkinan saya tidak mampu menghadapinya dengan tegar dan akan broke down, berdasarkan pengalaman saya juga tahu bahwa akan ada masa-masa baik setelah masa-masa sulit, namun ada juga keadaan yang tidak saya sukai namun tak bisa saya ubah dan harus saya jalani dan saya terima sebagai suatu bagian dari kehidupan yang tidak sempurna, dan hidup memang tidak akan pernah sempurna, karena kalau sudah sempurna pasti namanya surga, bukan lagi dunia. Hidup ini sendiri memang tidak akan pernah bisa menjadi sempurna, begitu banyak faktor yang berada di luar kendali seseorang dan kejadian2 yang tidak diduga-duga dapat saja terjadi tanpa minta ijin terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

Karena itu setiap orang boleh merasa tidak bahagia dalam sepenggal periode waktu kehidupannya. Saya tidak melihat ada yang salah dengan hal itu. Saya justru melihat suatu keanehan yang luarbiasa ketika seseorang dituntut dan menuntut dirinya untuk merasa bahagia setiap saat. Mengapa? Sebab dia tak akan bisa memenuhi tuntutan tersebut. Kita semua diberikan perasaaan, bukan hanya untuk merasakan kebahagiaan, tetapi juga kepedihan, kesedihan, duka, kecewa, marah, dan tidak ada salahnya emosi-emosi itu ada atau dirasakan.

Karena itu kalau ditanyakan kepada saya apakah kamu selalu bahagia, jawaban saya adalah: tidak. Tapi kalau kamu ingin saya bohongi, maka dengan senyum lebar saya bisa juga berkata: Tentu saja, buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya. Dan percayalah, ketika kamu sedih, kamu pasti tidak akan mau berdekatan dengan saya, karena saya tidak akan mengerti apa yang kamu rasakan, saya akan memaksa kamu untuk tetap berbahagia, sebab hanya itu yang saya tahu, saya tidak akan mau tahu apa yang kamu rasakan, atau peristiwa apa yang kamu alami, yang pokok.. be happy.. SMILE!!

---

Periode: merasa gemas dengan ekspektasi2 yang menyesatkan.

2.

Membuka. Plop, klik. Pintu, tutup botol, baju. Apa saja. Membuka hati, membuka mata, membuka pikiran. Membuka, mencoba untuk menemukan sesuatu. Untuk melangkah memasuki sebuah ruangan, atau keluar dari suatu ruangan.

Membuka mata. Pagi hari adalah waktu yang paling tepat bagiku untuk membuka mata, walaupun sepanjang hari aku melakukan tutup dan buka mata karena mata memang berkejap. Namun membuka mata pada pagi hari adalah sesuatu yang istimewa. Menemukan bahwa matahari memang setia menggantung di langit timur, walaupun mendung kadang-kadang membuatnya tidak terlalu nampak nyata, tapi kesadaran bahwa ia ada, cukup sudah.

Membuka baju, menanggalkan atribut-atribut lain yang melekat di tubuh, lalu membiarkan tubuh dibasuh oleh air, namanya mandi. Mandi pagi selalu merupakan sebuah pembukaan yang juga istimewa karena ada sebuah perjuangan di sana melawan rasa ngantuk, keinginan untuk leyeh-leyeh, dan malas bersentuhan dengan dingin.

Membuka lemari es, mencari kotak susu, menuangkannya ke dalam secangkir gelas, membuka microwave, meletakkan gelas, dan menghangatkan segelas susu sebelum mencampurnya dengan cereal dan mulai mengunyah kres kres kres... Makan pagi adalah sebuah pembuka hari yang penting, namun juga merupakan sebuah perjuangan sebab seringkali harus berpacu dengan waktu untuk menuju ke suatu tempat tertentu.

Membuka pintu depan, melangkahkan kaki ke luar dari rumah, menuju ke suatu tempat yang bukan rumah, membuka sesuatu, memulai sesuatu pada hari itu, menemukan sesuatu, atau kehilangan sesuatu, segala sesuatu dimulai dari membuka sesuatu.

1.

Menulis, kata seseorang, adalah sebuah pekerjaan yang bersifat solitaire, diperlukan ruang dan waktu khusus untuk menulis, diperlukan keintiman antara si penulis, pikirannya dan huruf-huruf yang dirangkainya satu demi satu menjadi kata-kata, diperlukan kejujuran untuk menelanjangi dan menghias karakter-karakter, diperlukan keberanian untuk menciptakan dan membunuh. Menulis adalah kesempatan untuk menjadi seorang tuhan yang fana, yang menciptakan mahluk-mahluk imajiner yang akan hidup lebih abadi daripada tuhan mereka.

Keabadian, itu yang mendorong aku untuk menulis. Aku tahu dengan jelas bahwa aku tidak memiliki keabadian dalam kantong fana yang mudah sekali lapuk bernama tubuh ini. Tubuh yang begitu mudah terusik, tersakiti dan kelak akan membusuk lalu membubuk, menjadi bagian dari perputaran waktu dan lindasan jaman. Aku akan menjadi tanah. Tanah-tanah yang sekarang ini aku injak dengan pongah, kelak, itu adalah aku juga. Aku sering berpikir, mungkin saat ini aku sedang menginjak serpihan kakek moyangku atau seorang puteri raja yang pada masanya menjadi rebutan pangeran-pangeran segenap negeri, atau serpihan-serpihan milik seorang penguasa yang begitu disegani pada jamannya, kini bercampur baur juga ia dengan serpihan bekas-bekas musuhnya atau bahkan budak paling rendah dalam jajaran pegawainya, tidak lagi ada bedanya. Betapa ironisnya, kita semua hanyalah tanah.

Pernah pada suatu masa, aku memandang semua orang dan aku mampu melihat mereka menjadi serpihan-serpihan yang diterbangkan angin, debu. Begitu banyak debu-debu itu dan mereka melekati tubuhku sehingga aku ingin sekali berteriak untuk mengibasnya, namun aku tak bisa melakukannya, mereka ada dimana-mana, sel-sel mati itu ada dimana-mana, mereka adalah aku juga yang sudah luruh, seperti halnya waktu kemarin yang tertinggal dibelakang namun tak bisa dilepaskan dari rangkaian waktu yang harus aku jalani.

Mungkin akan menjadi menarik, manakala aku bisa memenggal-menggal jalinan waktuku, memilih hanya yang aku suka dan menanggalkan yang tidak aku sukai. Sayangnya, waktuku pun bukanlah milikku. Waktu hanyalah ruang yang disediakan untuk aku jalani. Aku tak punya kuasa atasnya, aku tak punya pilihan atasnya. Aku hanya punya kesempatan untuk memanfaatkannya, atau mengabaikannya, dan ia selalu mengabaikan aku, tak perduli apakah bagiku cukup atau tak cukup, ia selalu harus secukup yang telah disediakan.

Karena itu aku menulis. Aku menulis sebab dalam tulisanku, waktu adalah milikku, yang bisa kupenggal-penggal sepuas hatiku, yang bisa kujalin-jalin sesuka hatiku. Aku adalah tuan, penguasa waktu. Tak ada yang dapat membatasi waktu-waktu milikku. Tidak satu orang pun bahkan dewa sekalipun dapat mengambil kebebasan dan keleluasaan itu dariku. Hanya aku dan pikirankulah yang menjadi pagar atau pintu, menjadi pembatas atau pembebas.

Menulis membuat aku merasakan dan melihat aku dan pikiranku dengan terang telanjang, tanpa satu lekak dan lekuk yang terlewatkan, ia menjembatani aku dan rasaku seperti sebuah ikatan cinta dan keintiman yang menakutkan karena begitu terbuka, namun begitu membebaskan, sebuah kepuasan yang nikmat tentang segala, tentang semua, menyentuh titik-titik paling sensitif dari setiap syaraf-syaraf memori dan memompakan oksigen ke dalam aorta-aorta darah yang mengalirkannya ke otak, pusat segala kordinasi kehidupan di tubuh fana ini, dan dalam segenggaman momentum itu, aku merasakan satu: keabadian yang membebaskan aku dari sekedar tubuh. Sebuah paradoks. Aku tahu bahwa aku terikat, namun aku juga bebas.

Setiap orang memiliki momentum keabadiannya sendiri-sendiri. Memiliki cara masing-masing untuk sejenak merasakan kebebasan sempurna itu. Bagiku hal itu adalah: menulis. Walaupun aku tak harus mengabarkannya kepada dunia, walaupun tak satu matapun membaca transkrip-transkrip kisah-kisah yang aku jalin, walaupun mereka hanya hidup dalam memori sebuah kotak elektronik yang dihidupkan oleh kedutan listrik ini, atau ada dalam sebuah kotak plastik disebuah sudut kamar, namun mereka hidup, aku sudah memberi mereka kehidupan yang kuatur sendiri. Aku sudah merasakan kesenangan dan kepedihan, sisi-sisi gelap dan sisi-sisi terang, batasan-batasan yang berani dilanggar dan tak berani dilanggar.

Lalu belakangan ini, aku menyadari bahwa aku adalah pendongeng, yang mendongengkan kisah-kisah kepada diri sendiri, dan melaluinya aku mengenali: aku.

aku ingin selalu bahagia

matanya menerawang jauh, tatapan sedih itu selalu dan terlalu sering saya saksikan beberapa waktu belakangan ini.

aku cuma ingin merasa bahagia. salahkah?

keinginan itu tidak salah, hanya saja, tidak realistis dan tidak sesuai dengan sebuah janji yang berbunyi: dalam susah dan senang dalam suka dan duka. di sana ada jaminan bahwa akan ada susah dan akan ada senang akan ada suka dan akan ada duka. semua itu bagian dari kehidupan.

bentuk-bentuk huruf yang berbeda

@ Mencoba mempergunakan bentuk huruf yang berbeda.--Font: Courier New

Pagi ini, ketika (lagi-lagi) duduk di depan laptop untuk mencoba menuangkan apapun yang ada di dalam benak saya, maka secara iseng-iseng saya mencari font (jenis huruf) yang berbeda. Secara umum, MWWP biasanya sudah disetting untuk mempergunakan font Times New Roman. Padahal saya sudah agak bosan dengan bentuk font, yang menurut mata saya yang menderita rabun jauh akut ini, terlampau ramping. Jadi, saya memutuskan untuk mempergunakan font baru, dan pilihan saya jatuh pada Courier New yang lebih bulat-bulat dan lebih lebar, enak di mata, walaupun makan tempat, untuk tulisan yg ini.

@ Mencoba membaca hingga tuntas untuk kedua kalinya: Creative Play dan In His Image.--Font: Palatino Linotype

Ada korelasi yang unik dari kedua buku yang sedang saya baca saat ini. Begini ceritanya.

Buku Creative Play, saya beli sebelum Jason lahir, ketika Ista dan Nona, mama dan almarhum papa, dan almarhumah Oma Pangpang serta kami sebagai extended family sedang mengalami euphoria mempersiapkan kedatang sang calon anggota baru tersebut ke tengah-tengah keluarga ini.

Sebagai satu-satunya tante dari pihak ayah sang calon bayi, saya memutuskan untuk menjadikan diri saya tante yang baik, yang tugasnya kelak adalah bersenang-senang dengan si bayi, dan membiarkan papa dan mamanya lah yang mengurusi hal-hal yang susah-susah, hehe, iya dong... bukankah secara umum memang seperti itu aturannya? Maka, saya memutuskan untuk membeli buku ini, sebab saya punya sebuah rencana yang sangat ambisius, yaitu kalau bermain, maka permainan kami haruslah permainan yang terarah yang akan membantu menciptakan seorang jenius bagi dunia, weleh weleh weleh... saya kok merasa seperti Mr. Plankton di Spongebob ya?

Buku ini, ternyata membuat saya terpesona, karena dari buku ini saya belajar begitu banyak hal secara tidak langsung dan kemudian secara langsung ketika bermain dengan Jason dan kini juga dengan Joshua. Walaupun saya tidak berhasil mengadopsi secara keseluruhan isi buku ini ke dalam kenyataan, karena pada kenyataannya, bermain dengan anak-anak itu sangat melelahkan secara fisik maupun mental, plus merupakan ujian kebijaksanaan dan kesabaran yang baru saya sadari masih sangat perlu untuk diasah, namun buku ini membantu saya melihat dan menyadari apa arti bermain bagi anak-anak dan mengapa mereka bermain seperti mereka bermain, serta mengapa bermain merupakan sebuah hal yang penting bagi anak-anak.

Melalui buku ini saya berhasil memperoleh pengertian bahwa bermain adalah sebuah cara yang luarbiasa yang dipergunakan oleh seorang anak untuk belajar secara alamiah.

Lalu, bagaimana dengan buku yang satunya lagi?

In His Image, adalah buku yang luarbiasa, buku ini memenangkan The Gold Medallion Book Award, ditulis oleh Dr. Paul Brand, seorang dokter ahli bedah tangan dan spesialis penyakit kusta yang ternama, dan Phillip Yancey, seorang editor umum untuk Majalah Christianity Today dan salah satu dari sekian penulis favorit saya karena pandangan-pandangannya yang luarbiasa tentang iman, harapan, kasih dan perbuatan, serta keberaniannya membedah isu-isu aktual yang sulit dan menantang bagi gereja baik sebagai institusi maupun sebagai komunitas yang merupakan tubuh Kristus, serta mempertanyakan dan membiarkan sebuah pertanyaan tetap menjadi tanda-tanya besar ketika jawabannya tidak dapat ditemukan melalui nalar manusia maupun hukum-hukum yang kaku, dan satu-satunya jalan keluar hanyalah: kasih karunia.

In His Image adalah lanjutan dari sebuah buku lain berjudul Fearfully and Wonderfully Made. Kedua buku yang luarbiasa ini mempergunakan tubuh manusia untuk menggambarkan hubungan yang luarbiasa antara TUHAN dan ciptaanNya.

Di sini saya akan mengutip apa yang ditulis oleh Phillip Yancey pada kata-kata pembukaannnya di buku ini, dalam terjemahan bebas ala G:

...mempelajari tubuh manusia merupakan usaha yang pantas untuk dilakukan karena menghasilkan bonus yang tidak terduga. Yaitu memberikan pencerahan atas metafora yang digunakan lebih dari 30x dalam kitab Perjanjian Baru, yaitu: Tubuh Kristus. Orang-orang Kristen, diumpamakan sebagai anggota-anggota individual dalam sebuah tubuh yang Universal dengan Kristus Yesus sebagai Kepala-nya... terdapat kemiripan yang begitu nyata antara tubuh manusia dengan Tubuh Rohani, kemiripan ini datang dari Penulis yang sama.

Seorang seniman besar dapat mempergunakan media apa saja untuk mengekspresikan dirinya, namun gaya dan tema, isi dan pendekatannya akan memancarkan kesamaan dalam setiap karyanya. Jadi, kita tak perlu terkejut bila Seniman Maha Agung pun telah meninggalkan tanda tanganNya dalam bentuk yang berbeda... arahkanlah teleskop ke galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan planet-planet di alam semesta, dan kemudian ketika kita mempergunakan mikroskop yang kuat untuk memandang molekul-molekul, atom-atom dan elektron-elektron yang amat kecil, maka tak dapat disangsikan lagi bahwa kita akan melihat kemiripan yang luarbiasa dalam struktur dan polanya. Pencipta yang merancang kedua realitas tersebut adalah Pencipta yang sama.

Melalui buku ini saya belajar menghargai tubuh dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya. Tuhan sudah memperlengkapi setiap tubuh yang diciptakannya dengan sangat sempurna, setiap komponen-komponen yang terdapat di dalamnya harus bekerjasama sesuai dengan fungsinya masing-masing agar seorang manusia dapat hidup dan bergerak dengan sempurna. Sel-sel di dalam tubuh manusia, dapat dan mampu untuk berdiri sendiri, namun ketika beberapa dari mereka melakukan hal itu, maka tubuh mengalami kehancuran atai disfungsional tertentu, tidak lagi sempurna.

Demikian juga individu-individu dalam Tubuh Kristus, setiap individu memiliki perannya masing-masing, sekecil atau sebesar apapun kelihatannya peran tersebut tergantung pada waktu dan tempat. Seperti penggambaran tentang darah putih yang nampak bergerak begitu lamban dan tanpa tujuan bila dibandingkan dengan darah merah yang selalu tergesa-gesa dan sibuk bekerja, namun begitu sesuatu yang asing dan kemungkinan besar mencelakai suatu bagian tertentu dari tubuh menerobos memasuki tubuh maka darah putih bergerak dengan cepat ke lokasi tertentu untuk menghancurkannya dan menyelamatkan tubuh walaupun dengan begitu mereka harus mengorbankan dirinya sendiri.

Setiap orang menempati posisi tertentu dan memiliki fungsi tertentu. Namun bagaimana cara untuk mengetahuinya? Dengan belajar secara langsung alias direct learning. Itulah yang dilakukan oleh seorang anak ketika mereka bermain, mereka mengeksplorasi, mengamati, dan belajar, bahkan seringkali melalui proses trial and error, karena ada hal-hal tertentu yang hanya bisa dipahami melalui kedua proses tersebut.

Seberapa sering saya kehilangan momentum untuk berfungsi secara benar karena saya terlalu kuatir melangkah dan melakukan kesalahan, dan seberapa sering saya gagal berfungsi sesuai dengan kebutuhan karena saya gagal belajar dari kesalahan-kesalahan yang sudah pernah saya lakukan.

@ Menguruskan badan.--Font: Georgia

Eci bilang, saya sudah segemuk Daphne. Daphne adalah anak dari sepupu saya, usianya sama dengan Jason, berat badannya 2x lipat berat badan Jason. Diluar semua itu, Daphne sangat cantik. Tapi dia juga sangat "besar" dan kata-kata big and beautiful sangat tepat menggambarkan Daphne, namun saya sangat sangsi hal itu menggambarkan saya. Karena itu maka nampak-nampaknya diet time dan exercise time are in order, pronto!


@ Mak Comblang atau lebih tepatnya Nak Comblang itu bernama: Jason!--Font: Arial Narrow

Beberapa waktu belakangan ini Jason mulai sibuk mempertanyakan status saya yang single ini, lajang jang jang jang!

Pada suatu hari pertanyaannya adalah: Tante Usi, kenapa tante Usi ga menikah sih? Apakah memang Tuhan pikir ini yang terbaik buat tante Usi?

Hmm... Jawaban saya adalah, "Tante Usi ga tau pikiran Tuhan apa, kak, tapi yang tante Usi tau sih.. keadaan ini ga terlalu jelek juga, kan jadi bisa main sama kakak dan adek?"

Betul juga, kata Jason, jadi kan bisa urusin kita juga ya? Lalu dia ngeloyor pergi.

Kalau saya pikir hal itu sudah selesai.. oho-ho-ho, saya salah sekali, duakali dan seratus kali lipat, sebab beberapa waktu kemudian, sepulang sekolah dia mendatangi saya dan mengusik saya untuk mengijinkannnya bermain di laptop saya yang saya jawab: TIDAK! Lalu dia duduk disamping saya dan berkata, Tante Usi, tante Usi ini kakaknya papa Ista kan?

"Iya, Je, kan Jason juga udah tau."

Dia mengangguk. "Iya," maksud Jason adalah, "seharusnya tante Usi kan duluan menikah daripada papa Ista." Lalu dia menepuk-nepuk bahu saya seperti seorang kakek kepada cucunya, dan berkata dengan serius sambil memandang dalam-dalam ke mata saya, "Bagaimana bisa menikah dan ketemu dengan suaminya tante Usi, kalau tante Usi ga mau keluar rumah?"

Ha! Jawab saya sambil meninju pundaknya, "Maksud kakak, tante Usi keluar rumah supaya kakak bisa mengambil alih laptop tante Usi, kan?"

Hahahah, dia terbahak, "Salah satunya juga begitu memang yang Jason maksudkan! Kok tante Usi bisa tau?"

Jawaban klasik saya, "Kan tante Usi ini tantenya Jason, yang urus Jason sejak masih kecil, ya pasti taulah pikiran keponakannya."

Kalau saya pikir sudah berhenti di situ usaha Jason untuk "memaksa" saya menikah dengan seseorang atau menemukan seseorang, maka saya salah sekali, dua kali dan seratus kali lipat.

Beberapa waktu yang lalu kami kedatangan tamu, sepupunya Nona yang sedang menjalani tes PNS. Nah, pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah tiba-tiba Jason mengisyaratkan sesuatu kepada saya, dia ingin membisikkan hal yang penting.

"Tante Usi, sama Oom... itu aja."

Ha?

"Iya, maksud Jason, tante Usi jadi suaminya Oom... itu aja."
"Isteri kali maksud kakak."
"Iya, jadi isterinya Oom... itu aja, dia juga kan belum menikah."

Hahahahahahahahaaaaaaaa! Saya ngakak beneran.

"Tante Usi udah ketuaan lah buat Oom... itu, kakak."
"Memangnya tante Usi umur berapa?"
"Empat puluh satu tahun, kakak."
"Emangnya Oom... umur berapa?"
"Yah pokoknya jauh lebih muda lah."
"Memangnya apa salahnya?"
"Ya salah aja kalo buat tante Usi, kemudaanlah dia."

Lalu dia menggandeng tangan saya untuk turun tangan, dan kebetulan melihat Oom yang termaksud sedang bercanda dengan Joshua, dan dengan spontan dia bertanya, "Oom... umurnya berapa?"

"Dua puluh tujuh tahun." Jawab si Oom tanpa curiga, trus merasa aneh juga dan bertanya, "Kenapa memangnya Jason?"

Jason malah melihat saya dan bertanya, "Eh, kalo tante Usi tadi berapa umurnya?"

"Empat puluh satu tahun, Je.." Jawab saya.
Dan Oma berteriak dari dapur, "Memangnya kenapa sih mau tau umurnya orang-orang besar?"
Saya menyahut, "Jason mau menjodohkan tante Usi ini dengan Oom..."

Jason cepat-cepat lari sambil cekikikan, dan Oom yang malang jadi serba salah. Saya tertawa geli, mama terbahak-bahak.

Nampaknya, saya harus mulai sangat waspada karena keponakan saya yang satu itu naga-naganya akan menjadi Nak Comblang bagi saya setiap ia melihat dan mengira ada kesempatan.


@Pertanyaan: Bentuk huruf mana yang paling enak dibaca?--Font: Trebuchet Ms